Ulang Tahun Rachel Carson, Jasa-jasanya, dan Potret Suram Pertanian Indonesia

Minggu, Mei 27, 2018

Lahir pada hari ini, 111 tahun yang lalu, Rachel Carson adalah seorang penulis dan ekologis berkebangsaan Amerika Serikat. Karena bukunya yang berjudul "Silent Spring" dia dinobatkan sebagai wanita pengubah sejarah lingkungan di Amerika Serikat (AS), bahkan dunia. Kenapa?
Buku legendaris, yang semestinya dibaca tiap mahasiswa pertanian seperti saya via Manhattan Rare Book Company
Dalam bukunya yang diterbitkan pada 1962 itu, dia memaparkan dampak dari kebijakan pemerintah AS pada masa itu yang mengggunakan pestisida berbahan aktif DDT (dichlorodiphenyltrichloroethane) untuk memberantas hama spruce budworm (Choristoneura sp.). Dampaknya adalah berkurangnya populasi ikan salmon di Sungai Miramichi. Dia menulis, DDT memang aktif memberantas spruce budworm, namun DDT juga sama mematikannya pada serangga air yang merupakan makanan ikan salmon yang masih muda, sehingga pada masa itu terjadi pengurangan populasi yang signifikan.
Rachel Carson via Alabama Chanin Journal
Setelah publikasi buku Silent Spring, banyak negara-negara mengikuti langkah Amerika Serikat untuk mengurangi, bahkan menghentikan penggunaan pestisida berbahan aktif DDT. Misalnya Swedia yang hampir 10 tahun bisa mengurangi penggunaan DDT sebesar 68%, dan mengurangi dampak pestisida terhadap kesehatan manusia sebesar 77%.
Berkebalikan dengan Swedia, Indonesia pada tahun 60-an yang dipimpin oleh Presiden Soeharto malah sedang gencar-gencarnya melakukan Revolusi Hijau, yang diimplementasikan melalui Repelita, Rencana Pembangunan Lima Tahun. Repelita Pertama (1969–1974) bertujuan memenuhi kebutuhan dasar dan infrastruktur dengan penekanan pada bidang pertanian.


Repelita I via slideshare
Dilaksanakannya Repelita I menurut saya, merupakan suatu kerugian di bidang pertanian. Mulai dari kesuburan yang berkurang, hilangnya sumberdaya genetik, hingga berkurangnya kearifan lokal petani yang selaras dengan alam. Di sini, banyak perubahan-perubahan yang terjadi selama dilaksanakannya program Repelita, yang berakibat sampai detik ini.

Penyemprotan pestisida pada tanaman pertanian memang menurunkan tingkat serangan, sehingga panen meningkat. Namun, hal ini juga turut mematikan serangga predator yang merupakan musuh alami hama tadi. Sehingga berakibat juga pada keseimbangan jaring-jaring makanan di alam.

Sebenarnya, petani-petani pada masa sebelum Repelita sudah memiliki teknologi mengenai pertanian. Input pertanian (pupuk, pestisida) yang minim dan keseimbangan ekologis adalah koentji. Namun, karena pada masa itu komunikasi pemerintah bersifat top-down, dimana masyarakat harus tunduk patuh (karena rezim militernya) akhirnya petani tidak punya pilihan lain selain mengikuti keserakahan dan ambisi penguasa saat itu.

Input pertanian berupa pupuk dan pestisida yang juga anorganik digalakkan, petani diikutkan bimas (bimbingan massal). Dalam bimas ini, petani didorong untuk menggunakan input anorganik, harapannya agar produksi padi meningkat, sehingga target swasembada pangan tercapai.
Warisan Orba dari Program Repelita via Republika.co.id
Praktiknya, produksi padi memang mengalami peningkatan yang drastis, dan tentunya Indonesia berhasil swasembada. Namun, bimbingan teknis yang tidak dibarengi dengan pengembangan kapasitas internal petani, mengakibatkan ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida itu makin tinggi. Dampak dari tingginya penggunaan pupuk dan pestisida anorganik yaitu pencemaran pada sungai, turunnya keanekaragaman hayati pada ekosistem, serta rusaknya keseimbangan hara dalam tanah.

Sumarno (2006) dalam publikasinya menyebutkan dampak negatif dari Revolusi Hijau zaman Orba pada komoditas padi yaitu:

  1. Usahatani pada komoditas padi memerlukan modal yang tinggi, karena adanya keharusan petani untuk membeli input eksternal seperti benih, pupuk, dan pestisida
  2. Budidaya padi harus mengikuti panduan yang rumit seperti jumlah benih per hektar, umur bibit dll.
  3. Adanya satu varitas unggul nasional yang ditanam secara luas
  4. Varitas lokal padi unggulan terdesak
  5. Keanekaragaman varitas padi menjadi berkurang, bahkan varitas lokal menjadi punah
  6. Tanaman padi menjadi lebih rentan terhadap hama dan penyakit
  7. Interaksi hama dan varitas rakitan menyebabkan adanya hama yang lebih resisten
Melihat dampak-dampak yang ditimbulkan, sungguh sangat disayangkan bahwa kita sudah kehilangan kesempatan untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati milik kita sendiri. Kebijakan yang tidak tepat dan cenderung ambisius, melahirkan dampak yang sangat susah bahkan tidak mungkin untuk dipulihkan.

Di hari ulang tahun Rachel Carson ini, saya berpikir untuk lebih awas dan sadar akan pentingnya dampak yang ditimbulkan daripada sekadar keinginan manusia. Penggunaan sesuatu yang berlebihan pastilah menimbulkan dampak yang tak terduga, karena dampaknya beum muncul sekarang, namun nanti.



Bahan rujukan:

Pimentel, D. 2012. Silent Spring, the 50th Anniversary of Rachel Carson's Book. https://bmcecol.biomedcentral.com/articles/10.1186/1472-6785-12-20. Diakses pada 27 Mei 2018
Rusdianto. 2015. Merawat Varietas Lokal, Kebangkan Selaras Alam. http://www.mongabay.co.id/2015/05/17/merawat-varietas-lokal-kembangkan-selaras-alam/. Diakses pada 27 Mei 2018
Sumarno. 2006. Teknologi Revolusi Hijau Lestari untuk Ketahanan Pangan Nasional Masa Depan. Seminar Nasional Sumber Daya Lahan Pertanian. Bogor
....dan sumber dari Google dari hasil "dampak negatif revolusi hijau".

You Might Also Like

0 comments

Subscribe