Membaca Tarian Bumi, Melihat Sisi Lain Perempuan Bali dalam Kasta

Sabtu, Januari 27, 2018

Saya termasuk orang yang tertarik pada bacaan yang bertema kebiasaan, nilai, tradisi serta kebudayaan suatu etnis. Sebut saja sampai sekarang saya masih tekun membaca buku Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 1850-1940. Selain itu, saya juga membaca Pasar, yang menceritakan bagaimana nilai-nilai Jawa diturunkan. Buku itu ditulis oleh Kuntowijoyo sudah sudah saya ulas di sini.

Kali ini saya akan mengulas buku Tarian Bumi karya Oka Rusmini, yang mengangkat budaya Bali. Kita semua sudah tahu pasti bahwa Bali, tidak bisa lepas dengan adat-istiadatnya yang mengakar. Menjelma dalam tingkah laku keseharian, sehingga banyak yang akhirnya tertarik, dan tentu kagum.

Namun dibalik itu, selalu ada kisah yang jarang dibicarakan. Kisah itu dirangkum oleh Oka Rusmini dengan apik dalam buku yang diterjemahkan menjadi "Earth Dance" ini.

****


Judul: Tarian Bumi
Penulis: Oka Rusmini
Cetakan: Ketiga, Maret 2017
Tebal: 176 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama





Sampul depan Tarian Bumi via dokumentasi pribadi




Menjadi perempuan tidak selalu mudah, apalagi seperti Luh Sekar. Luh Sekar adalah seorang perempuan dari kasta Sudra yang berambisi "keluar" dari lingkaran kemiskinan, dan hidup penuh hingar-bingar kemewahan. Nyatanya, ada hal-hal yang harus ia korbankan untuk keluar dari kehidupannya.

Hidup Luh Sekar muda penuh penderitaan yang tak berkesudahan. Ayahnya tak tau rimbanya setelah dituduh ikut PKI. Luh Dalem, ibunya dirampok, disiksa hingga matanya buta serta diperkosa oleh sekelompok lelaki. Ibunya kemudian hamil. Luh Sekar juga harus menahan gunjingan warga desa ketika ia mendengar kasak-kusuk bahwa Luh Kerta dan Luh Kerti, adik kembarnya merupakan anak haram.

Ambisi Luh Sekar adalah menjadi penari terkenal, menjadi pragina(1). Namun hal ini ditentang oleh Luh Kenten, teman satu-satunya Luh Sekar. Ia bersikeras agar Luh Sekar jangan sampai menjadi penari, karena sebenarnya....Luh Kenten menyukai Luh Sekar. Ia cemburu apabila ada orang lain baik perempuan maupun laki-laki yang memandang tubuh molek Luh Sekar ketika menari.

Seiring berjalannya waktu, Luh Sekar menjadi pragina di sekehenya(2). Menari dari satu kampung ke kampung lain, menyebabkan pengibing(3) manapun tak percuma menyelipkan saweran di kembennya. Hingga suatu waktu, ia membidik Ida Bagus Ngurah Pidada, anak bangsawan yang sering menyawer saat Luh Sekar menari.

Luh Sekar membuat Ida Bagus Ngurah Pidada bertekuk lutut, hingga suatu hari Luh Sekar diajak bertemu calon ibu mertuanya. Ida Ayu Sagra Pidada sangat tidak menginginkan anaknya menikahi "Ni Luh", calon menantunya haruslah "Ida Ayu" seperti dirinya. Luh Sekar sudah bulat tekadnya agar suaminya seorang lelaki Brahmana. Tak patah arang, Luh Dalem mencarikan jalan agar Luh Sekar dipersunting oleh bangsawan itu. Hingga ia berhasil dinikahi seorang Ida Bagus.


****

Isi buku ini tidak hanya berpusat pada Luh Sekar saja. Cerita berlanjut saat ia hidup di griya(4) dan harus menjadi bangsawan. Bagaimana Luh Sekar harus mengalami hari-hari yang keras karena dominasi Ida Ayu Sagra Pidada. Ada yang unik yaitu ibu mertuanya --secara adat-- menggantikan posisi ayah mertuanya. Sang istri menjadi suami, dan suami menjadi istri. Itulah sebabnya Ida Bagus Tugur, bapak mertua Luh Sekar lebih diam ketimbang ibu mertuanya.

Cerita Ida Ayu Telaga Pidada, anak Luh Sekar juga menarik. Bagaimana ibunya menjadikan ia sebagai penari. Penari yang tentu berbeda dengan ibunya karena Telaga menjadi penari saat ada upacara adat. Didatangkannya Luh Kambren, guru tari terbaik di Bali, yang juga menyimpan kisah kelam.

Di griya, Telaga juga menemui cinta pertamanya. Seorang Sudra yang mengabdi pada kakeknya. Akhirnya pergulatan batin menemui Telaga. Yakinkah ia bahwa seorang Sudra bernama Wayan Sasmitha itu laut yang akan dia arungi?

Buku ini tentunya sangat menarik karena banyak mengeksplorasi pakem-pakem dan aturan di masyarakat Bali, yang sedikit sekali kita ketahui. Selain itu, Oka Rusmini menggunakan banyak sudut pandang yang berbeda-beda. Kita diajak berganti tokoh. Menjadi tokoh Sudra, tokoh Brahmana. Menjadi tokoh yang berambisi, menjadi tokoh yang open minded, lalu menjadi tokoh yang nrimo.

Tarian Bumi menceritakan bagaimana adat-istiadat begitu ingin didobrak. Misalnya saja saat Luh Kenten bergulat batinnya ketika mengetahui bahwa dia berbeda. Dia berbeda, karena dia perempuan yang menyukai perempuan. Entah karena apa, dia menyukai lekuk tubuh Luh Sekar. Saat paling menyiksa adalah ketika Luh Sekar bertelanjang di hadapan Luh Kenten. Tentunya ini menjadi pergulatan sendiri bagi Luh Kenten. Sayangnya Luh Kenten tidak diceritakan lebih lanjut, apakah dia hidup tanpa lelaki atau akhirnya menikah.

Kita juga disajikan bagaimana kemolekan Bali dieksploitasi oleh Barat. Sebutlah cerita tentang nasib nahas Luh Dampar, teman Luh Kambren yang menikahi orang Jerman. Luh Dampar ditemukan mati gantung diri di studio suaminya, Galeri Dampar.

Di studio itu, Luh Kambren menemukan banyak foto, kartu pos, lukisan Luh Dampar dalam keadaan tak berbusana. Suaminya menjadikan Luh Dampar model bagi karyanya, yang kemudian karya itu dia jual ke teman-temannya di luar negeri. Naah juga menghampiri suaminya, ia harus mati dipukuli orang sekampung.

Sampul belakang Tarian Bumi via dokumentasi pribadi

****

Awalnya buku ini sangat njlimet, dengan beberapa catatan kaki (meski tidak sebanyak Supernova). Hal ini berkaitan dengan istilah panggilan dalam keluarga Bali, dimana kasta menjadi penentu. Kapan memanggil ratu, tuniang, tukakiang, atau odah.

Namun bagi penikmat kebudayaan, buku setebal 176 halaman ini sangat patut untuk dibaca. Cara Oka Rusmini mendeskripsikan nilai, adat-istiadat, pakem budaya Bali sangat menggairahkan. Seperti saat upacara turun kasta, patiwangi menjadi penutup perjalanan perempuan di buku ini. 

Banyak yang mengatakan Tarian Bumi bercerita tentang mimpi-mimpi perempuan. Mimpi yang kadang berkebalikan dengan realitas. Dimana konsekuensi dipikir belakangan, asal ambisi terus berjalan. Perempuan yang juga direduksi kedudukannya karena sistem patriakhis.

Secara keseluruhan, saya memberi nilai 8,5 dari skala 10 untuk Tarian Bumi. Tipis namun kaya akan pengalaman di dalamnya.


Keterangan
(1). Pragina: secara harfiah adalah seorang performer
(2). Sekehe: berarti perkumpulan, dalam buku ini semacam kelompok kesenian
(3). Pengibing: penonton pria yang datang saat penari joged menari

You Might Also Like

0 comments

Galeri

Subscribe