Freshgraduate Bekerja di NGO? Kok bisa?

Senin, November 06, 2017

Halo halo Bandung, ternyata sudah satu bulan saya tidak menulis. Bulan Oktober terlalu sibuk untuk sekadar menulis pembelaan. Tapi memang Oktober kegiatan lumayan padat, sebulan kemarin saya pergi ke lapang sebanyak dua kali. Akhirnya baru sempat menulis di awal bulan November ini.

Sebelumnya ada yang bertanya: kok bisa sih freshgraduate kerja di NGO? Atau kok bisa sih dapet kerjaan kayak gini?

Memang kalau kita cermati, kebanyakan lowongan kerja di LSM/NGO mensyaratkan untuk memiliki pengalaman kerja. Mulai dari 3-5 tahun harus dikantongi. Itulah yang menjadi pertanyaan pada saya.

Saya juga bingung menjawabnya, karena pekerjaan pertama saya ini merupakan hal di luar dugaan, meski memang didamba-dambakan. Jadi ceritanya begini....

Waktu itu Protection of Forest and Fauna (Profauna Indonesia) memang sedang membutuhkan staf untuk mengisi lowongan di posisi Communication Staff. Saya melamar saja karena tidak ada ketentuan pria atau wanita. Setelah seminggu lamanya saya menunggu tidak ada kabar pengumuman Communication Staff, akhirnya saya memutuskan untuk pulang ke rumah.

Tiga hari kemudian, saya mendapat pesan dari founder Profauna Indonesia, Bapak Rosek Nursahid. Beliau mengirimkan pesan melalui Whatsapp yang isinya lebih kurang:

"Afrizal, apa mau bekerja di Maluku Utara? Nanti Afrizal bisa tinggal di kantor. Kerjanya nanti sosialisasi ke desa-desa di Halmahera Selatan."

Saya belum menjawab, akhirnya ada pesan lagi berbunyi:

"Kalau Afrizal mau, saya tidak akan publish di web."

Bukan berlaga sombong atau apa, karena waktu itu baterai hp sedang low, sedangkan listrik masih padam. Saya enggan membalas jika tidak ada pesan yang penting (oke ini mulai songong). Berikutnya tanpa babibu lagi, saya membalas pesan beliau dengan mengatakan "ya, saya setuju."

Akhirnya kami sama-sama deal. Saya akan bekerja di NGO, dan beliau tidak akan mem-posting lowongan pekerjaan ini di situs Profauna.

Intermezzo: setelah saya masuk dan bekerja di kantor headquarters (HQ), diketahui bahwa posisi itu untuk wanita. Pantas saja saya tidak dipanggil untuk wawancara!

Pasti terbit pertanyaan: kok bisa kenal founder NGO?

Saya bersyukur pernah menjadi sukarelawan atau volunteer di Profauna Indonesia. Dan selama berkegiatan sebagai sukarelawan ini, saya juga berinteraksi tidak hanya dengan para staf namun juga Bapak Rosek sendiri. Pun waktu itu hanya saya yang menjadi sukarelawan di Profauna. Mau tidak mau beliau kenal saya, kan?

Karena tahu saya melamar pekerjaan sebagai communication staff di Profauna, maka beliau akhirnya menawari saya pekerjaan di organisasi yang dipimpinnya, Profauna Indonesia. Inilah awal mula saya diterima sebagai staf lapang Profauna di Maluku Utara.



Kilas Balik

Sebagai lulusan baru, tentunya kita perlu aktualisasi diri setelahnya. Dengan kata lain, fase berikutnya sudah menunggu. Entah itu bekerja, langsung menikah, membuka usaha/berbisnis, lanjut sekolah, atau yang lain.

Saya sendiri memilih jalan terakhir, yaitu yang lain. Nah, istilah "yang lain" ini bisa beragam bentuknya. Waktu itu saya mencari alternatif lain seusai wisuda, yaitu menjadi relawan panitia di Kelas Inspirasi (KI). Tentunya kids zaman now tahu itu apa itu KI, yang tidak tahu saya tenggelamkan! *ala suara Menteri Susi*.

Awas ditenggelemin Bu Susi gaes via memegenerator.net

Berbagai posisi saya lamar, mulai dari pertanian sampai nonpertanian, mulai dari lowongan dalam hingga luar negeri. Sebelum wisuda pun saya menerima panggilan tes dari salah satu perusahaan finance, namun saya tidak hadir. Karena memang belum siap dites. Hehe.

Bulan-bulan berikutnya setelah KI selesai, saya masih terus melamar. Beberapa panggilan tes pekerjaan berdatangan. Tapi entah kenapa saya masih gamang, dan sejujurnya....saya masih belum siap bekerja. Karena saya pikir, waktu itu 2016 saya masih berumur 21 tahun. Masih ada waktu untuk saya benar-benar siap terjun ke dunia kerja, pikir saya.

Namun, tekanan dari segala penjuru mulai berdatangan, pertanyaan "sudah lulus kuliah? Kerja dimana sekarang?" seolah menjadi kalimat paling menyedihkan. Selain itu, usia awal dua puluhan merupakan usia yang kritis karena twenty-something-crisis. Saya menyerah, saya harus keluar dari zona nyaman ini (baca: menjadi pengangguran). Saya ingin berbeda, ingin menempuh perjalanan yang berbeda!

Oleh karena itu, saya rajin membaca artikel tentang mau kemana setelah lulus. Akhirnya saya memberanikan diri untuk volunteering.


Yang bisa dilakukan setelah wisuda via tirto.id

Sejak saat itulah saya rajin bertanya pada Mbah Google, dimanakah saya bisa menjadi sukarelawan? Tentunya saya memilih isu-isu yang sesuai dengan minat saya. Saya memilih isu lingkungan, lebih spesifiknya tentang satwa liar dan hutan, kalau bisa. Kalau tidak bisa, apa saja boleh!

Beberapa lembaga atau organisasi telah saya kantongi akibat sering bertanya pada Mbah Google. Banyak pertimbangan yang saya lakukan, salah satunya yaitu keuangan. Diri ini tidak ingin menyusahkan orang tua. Seusai menimbang-nimbang, saya putuskan menjadi sukarelawan di Profauna Indonesia, karena kantor pusatnya (headquarters) masih berada satu kota dengan kampus saya: Kota Malang. Kenapa Malang? Karena saya susah move on dari kota ini :')

Untuk volunteering di Profauna, syaratnya adalah menjadi anggota atau supporter terlebih dahulu. Segala persyaratan untuk menjadi supporter saya penuhi, akhirnya saya dinyatakan siap volunteering setelah mengisi formulir volunteer. Beruntungnya saya bisa memilih waktu untuk volunteering, serta tempatnya. Saya memilih untuk volunteering  di Petungsewu Wildlife Education Centre (P-WEC), di Dau, Kabupaten Malang. Untuk waktunya, saya memilih dari tanggal 15 Agustus hingga 5 Oktober 2017.

Serunya bermain gim "polusi sungai" via dokumentasi pribadi


Selama itu, banyak pelajaran dan pengalaman selama volunteering. Awalnya kita harus membiasakan diri memang, karena atmosfer tidak selalu mengenakkan (karena tidak terbiasa). Namun, karena keputusan ini saya ambil sendiri, tentu konsekuensinya harus saya hadapi sendiri.

Singkatnya, saya mengalami 7/7 dari artikel di Hipwee ini. Sepertinya saya berubah, ibarat ulat yang bersemadi dalam bentuk kepompong. Dan dalam kepompong itu semua proses terjadi, mengalir. Saya merasa keluar dari belenggu tak kasat mata selama ini.

Memang volunteering itu memberi kita pengalaman yang berbeda-beda. Tapi sejauh yang saya dapat berdasarkan pengalaman sendiri atau orang lain, menjadi seorang sukarelawan itu asyik kok! Kebahagiannya tidak setara lembaran uang, tapi lebih ke hal-hal sederahana. Pantas saja ada kalimat bahagia itu sederhana. Sesederhana gelak tawa staf saat makan siang bersama. Sesederhana berbagi skill kita kepada orang lain. Benar-benar sederhana :)

Seusai pengamatan pohon via dokumentasi pribadi


Tips saya untuk kalian yang belum pernah atau masih ragu untuk volunteering, ingat kalau hidup hanya sekali. Berlakulah baik dan memberikan dampak positiflah sesekali. Kita tidak tahu kapan akan pindah dari dunia ini. Maka dari itu, kalau tidak menjadi volunteer sekarang, lalu kapan lagi?

Hari terakhir, berfoto dulu kita via dokumentasi pribadi


Catatan: tulisan ini merupakan pengalaman saya sendiri. Penting diketahui bahwa tiap lembaga/organisasi punya kebijakan sendiri terkait perekrutan stafnya.

You Might Also Like

0 comments

Galeri

Subscribe