Merasa Nyaman Hidup di Daerah Rawan Bencana

Jumat, September 29, 2017

Gempabumi, atau tanah goyang dalam bahasa Melayu-Ternate, sudah tercatat sejak kemarin lusa (27/9). Gempabumi ini, sejauh pemberitaan di media belum sampai merusak. Namun getarannya terasa cukup kuat, dan dirasakan banyak orang.

Selama hampir setahun saya tinggal di Ternate, hari ini (Jumat, 29 September) yang terkuat. Dan, selama tiga hari berturut-turut ini yang paling sering terjadi gempabumi. Setelah beberapa kali mengunjungi situs BMKG, maka jelaslah bahwa tiga hari ini memang terjadi gempabumi.

Hasil pantauan mandiri via dokumentasi pribadi
Sejak awal terjadinya gempa sudah bisa dirasakan di Ternate via dokumentasi pribadi

Magnitudo gempa tertinggi terjadi pada hari ini, yaitu hingga mencapai angka M 5. Makanya BMKG membuat siaran pers di situsnya. Untungnya rentetan gempabumi tersebut tidak memicu tsunami, jadi sampai saat ini, kami aman.

Oh ya, mengapa judulnya terkesan aman-aman saja? Meski berdasarkan pemberitaan di media ada satu orang korban? Karena kita harus sadar bahwa....

kita hidup di daerah yang rawan bencana alam. Bencana yang dari sononya dan tak bisa kita cegah, kecuali manusianya yang bersiap diri.

Berdasarkan hasil berselancar di belantara Google, gempa ini disebut gempa swarm. Gempabumi ini dicirikan dengan seringnya frekuensi kejadian gempa, serta dengan magnitudo yang kecil. Lihat saja, ternyata Kabupaten Halmahera Barat yang merupakan episentrum gempa beberapa hari ini ternyata sudah mengalaminya pada tahun 2015.

Selain itu, saya mencomot judul tulisan saya saat ini dari blog Pak Daryono yang pernah bekerja di BMKG. Untungnya sampai saat ini saya belum menerima pesan berantai hoax terkait gempabumi ini. Syukurlah.


Ya, kita memang harus merasa nyaman untuk tetap survive. Jangan kaget saat terjadi gempa yang beruntun, hingga mencapai 988 kali. Lantas jangan seperti air comberan yang terheran-heran saat melihat air, wong sama-sama air, kok!

You Might Also Like

0 comments

Galeri

Subscribe