Cerita dari Sebuah Kedai Kopi

21.30

Kopi mendekatkan kita via akun instagram Coffeetarian 

Agak susah menurut saya mencari kedai kopi di Ternate. Mau cari angkringan seperti di Jawa, apalagi. Jadilah di awal-awal kepindahan saya di sini membawa kopi sendiri dari rumah.

Saya sendiri tidak terlalu fanatik kopi ya, bukan penikmat garis keras juga. Cuma setidaknya saya tau perbedaan kopi arabika dan robusta. Apa itu coffee speciality. Berapa perbandingan susu di latte dan cappucino. That's it.

Jangan lupa ngopi via funnygasm.com

Setelah sebulan di sini, akhirnya saya menemukan satu representasi kedai kopi seperti di Jawa, coffee shop hits lah istilah alaynya. Jadi, si empunya ini ternyata bukan orang asli Ternate, tapi pendatang seperti saya. Namanya Bang Rio, dari Makassar. Sebelumnya kedai kopinya ada di dekat kantor, Jati Perumnas. Tapi sekarang dia mendirikan kedai baru di lokasi yang agak jauh dari kantor. Akhirnya, saya ke sana.

Istilah yang umum di kedai kopi via Huffington Post


Di kedai barunya yang sudah lebih dari dua minggu soft opening, saya lebih menikmati. Kenapa? Karena tempatnya tidak terlalu besar, tapi hangat. Hangat karena percakapan antar staf kedai yang ramah. Sebuah privilege tersendiri pastinya.

Malam Minggu kemarin, saya akhirnya pergi ke Coffeetarian, nama kedai kopinya. Di situ saya langsung disapa oleh Bang Rio sendiri. Terlihat dia sedang sibuk mengutak-atik gawainya. Sudah saya tebak kalimat yang bakal dilontarkan pertama kali "lama ga keliatan Mas Abdi".

Akhirnya malam itu saya putuskan untuk memesan kopi toraja sesean dengan metode french press. Tidak ada yang bisa mengalahkan after taste kopi arabika menurut saya, sensasi asam di lidah tidak akan terganti. Lagi pula saya juga mengantisipasi naiknya asam lambung, yang biasa muncul setelah minum kopi robusta. Ampun!

Untung ada buku via dokumentasi pribadi

Sebuah kemajuan menurut saya, di suatu kedai kopi (dimanapun) ada buku yang menunggu untuk dibaca. Begitu juga malam itu yang saya habiskan dengan membaca novel Critical Eleven karya Ika Natassa. Such a perfecto <insert a cup of coffee emoji here>.

Malam mulai larut, selarut gula dalam kopi. Kedai tinggal satu dua orang. Akhirnya kami bersatu, dari yang tidak kenal akhirnya kenal. Termasuk Bang Rio yang turut bergabung dalam meja yang sudah disatukan itu. Kata Bang Rio, dia suka buka bisnis seperti ini. 

Soalnya bisa mengamati tingkah laku orang-orang minum kopi, selorohnya.

Dia pun bercerita, tiap orang punya kebiasaan tersendiri saat minum kopi.

Ada yang selalu sendirian datang ke kedai, selalu memesan yang dingin-dingin meski saat itu cuaca sedang dingin. Mau cuaca hujan, badai, hujan salju, dia selal memesan menu yang dingin.

Ada yang tidak berhenti merakit gunpla (figur robot Gundam) sebelum rakitannya selesai. Merakit butuh kesabaran, sembari menunggu kepulan asap kopi menguap, lebih baik membunuh waktu dengan merakit, bukan?

Ada yang memesan menu tanpa menghabiskan, sudah memesan lagi. Akhirnya, Bang Rio bilang "bayar segini aja mbak".

Dan ada pula orang yang memakan ampas kopi setelah kopinya habis *bercermin*. Kebiasaan aneh saya. Karena saya tidak terlalu suka yang manis-manis, akhirnya ampas kopi di dasar alat french press saya jadikan cemilan. Meski french fries yang saya pesan masih ada. Hehe.

Sampai masuk insta-story segala via dokumentasi pribadi

Malam itu akhirnya saya pamit pulang lebih dahulu. Pukul 01.00 WIT saya beranjak dari konferensi meja yang digabung itu. Tidak perlu neko-neko bermalam minggu bersama pacar, kalau rame-rame lebih seru, 'kan?

You Might Also Like

0 komentar

Gallery