Membaca Rabu Rasa Sabtu oleh Arswendo Atmowiloto

21 Maret

Program #1bulan1buku sudah memasuki bulan keempat, sejak hiatusnya program itu dari kebiasaan rutin saya. Memang, bulan-bulan sebelumnya buku apa? Kok tidak ditulis? 

Buku sebelumnya yaitu Supernova #3, #4, dan #5, sebenarnya. Saya tidak berniat untuk mengulas karena saya kira sudah banyak. Lagi pula, saya membaca di saat semua sudah moksa ke Asko, sedangkan masuk angkatan terakhir yang tau Asko itu apa. Ya sudah, akhirnya saya meresensi buku ini saja.


 Tampak depan buku Rabu Rasa Sabtu



Biodata buku:
Judul: Rabu Rasa Sabtu
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 
Tahun: 2015
Jumlah halaman: 240

Di sampul belakang buku tertulis:
Seorang gadis bernama Ayang menderita kelainan batuk, sebenarnya karena dikutuk setiap kali dipeluk. Nasib Ayang benar-benar malang. Ia menderita. Setiap kali batuk satu giginya tanggal, hingga akhirnya ia ompong. Pandangannya kosong. Untuk mengganti giginya yang tanggal, dipasang gigi anjing. Tapi suara Ayang jadi melengking....

Kutipan di atas ada dalam buku ini. Tapi itu bukan cerita yang sesungguhnya, karena kejadian membentuk ceritanya sendiri. Setiap kata mengajak kata yang berdekatan, lalu ada kalanya bergenit menyaru sebagai puisi, atau berusaha membentuk kalimat. Misalnya bahwa Ayang sudah ditentukan umurnya--meskipun mati karena batuk kurang dramatis, dan ada lelaki yang suka menggendong, mencintainya, walaupun Ayang tinggal separuh.
Barangkali itu terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu.

Intro
Buku ini merupakan karya dari Arswendo Atmowiloto yang pertama kali saya baca. Sebelumnya saya cuma mendengar nama Arswendo, belum tau karya-karya beliau seperti apa. Ternyata setelah menelusuri Mbah Google, ternyata beliau juga menulis untuk Keluarga Cemara, yang adegannya saya tidak ingat jelas seperti apa.

Buku ini terdiri dari tiga bagian, yaitu:
  1. Bagian pertama - Aku Mencintaimu, Kalaupun Kamu Hanya Separuh
  2. Bagian kedua - Mencari Buaya Putih
  3. Bagian ketiga - Kematian dan Kelamin itu Kekuasaan Tuhan
Membaca halaman pertama dari bagian pertama adalah hal terbosan saya dengan buku ini. Saya sudah hampir menyerah dan sudah membuat saya ingin berhenti. Namun, saya tetap paksakan karena sayang dengan uang sudah saya keluarkan.

Tapi, lembar berganti lembar saya malah dibuat penasaran. Saya suka susunan kalimat yang membentuk rima, sudah mirip puisi saja. Saya kira beliau memang menuliskannya seperti puisi.

Mama Tera bisa bicara tajam, namun selalu memilih diam. Sebagian masyarakat hanya mengenalnya sebagai perempuan dengan wajah muram, semata karena kedua alis kiri-kanan seakan dipersatukan. -- halaman 19.

Bagian pertama bercerita tentang latar belakang Wayang Supraba, tokoh sentral dalam buku ini. Berikut perkenalan dengan tokoh utama lain yaitu Jalmo. Bagaimana mereka bertemu, dan keduanya tak sengaja saling jatuh hati. Demikian pula dengan ayah-ibu Wayang yang merestui hubungan keduanya.

Bagian kedua merupakan babak baru dimana Way --panggilan Wayang-- dan Jalmo berkelana menuju ke Sungai Eretan, dimana di sana ada buaya putih. Dan, bagian ini menceritakan tentang kampung yang sepi sebelum kedatangan Way dan Jalmo, dibuat ramai karena kedatangan keduanya.

Bagian ketiga adalah bagian terungkapnya masa lalu Jalmo, kepada siapa Way "bernafsu", dan serpihan ingatan Jalmo tentang teman masa kecilnya.

Interlude
Ya, sebagai pengalaman pertama membaca buku Arswendo, saya menilai buku ini unik. Selain karena dipenuhi diksi, kalimat dalam buku ini bisa diterima oleh orang awam seperti saya. Lagi, buku ini sangat vulgar, tidak cocok untuk dibaca bagi yang belum ber-eKTP. Banyak adegan enaena-nya.

Selain itu, di sini Arswendo bermain-main dengan definisi waktu. Saya jadi ingat buku Supernova: KPBJ, kalau manusia itu menciptakan konsep waktu dan ingin memiliki kuasa untuk waktu. Maka dibuat standar waktu 24 jam per hari, supaya manusia bisa memiliki kuasa untuk bekerja, makan, dan beraktivitas yang lain. Kira-kira mirip seperti itulah apa yang disampaikan beliau di buku ini.

Di buku juga ada istilah baru, misalnya selaksa yang artinya sepuluh ribu kali, dan daksa yang berarti tubuh. Buku ini sejak awal menyinggung masalah homoseksualitas, sedikit. Jangan dikira homoseksualitas ini cuma terbatas pria menyukai pria, tapi lebih luas.


Tampak belakang buku Rabu Rasa Sabtu

Penokohan
Tokoh di buku ini tidak terpusat pada duo Way-Jalmo. Tapi ada juga kisah keluarga angkat Jalmo yang menurut saya seperti Dimas Kanjeng, sama-sama tukang tipu. Tapi orang tua angkat Jalmo menipu dalam hal pengobatan.

Ada pula Pak Efendi yang apesnya, diPHK gara-gara Jalmo. Entahlah, cerita Pak Efendi membuat saya gemas karena dia juga orang yang sudah jatuh, tertimpa tangga, lalu dipatuk ular, masih digigit buaya lagi. Sialnya beruntun, tapi akhir kisahnya menggantung.

Kisah teman masa kecil Jalmo yang diketahui mengidap kanker menarik buat saya. Dari nama dua kawannya yang mirip, hingga akhirnya diketahui siapa yang menggambar Rajawali Gila.

Outro
Sebagai penutup, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Meski banyak adegan yang vulgar, tapi bukan itu topik utamanya. Sayat tak menyangka Jalmo dan Way akan berakhir demikian, biarlah proses membaca buku ini yang menjadi penilaian pada akhirnya.

"Mo, aku mau kau nakal lagi".
"Mauuuu. Yuk."

You Might Also Like

0 comments

Gallery

Subscribe