Interpretasi Lagu Dana Express oleh White Shoes & The Couples Company

02.16

Kembali saya menginterpretasikan lagu. Masih dengan band yang sama yaitu White Shoes & The Couples Company. Entah kenapa lagu-lagu baru band ini makin memberikan “feel”  kepada saya. Semacam makin terhubung dengan lagu ini, makanya saya buat pemaknaan lagunya.

Ilustrasi via tamalangkun.com

Menurut saya lagu ini menceritakan tentang pekerja yang mengungkapkan kekecewaannya kepada perusahaan tempatnya bekerja. Semacam menagih gaji kepada perusahaan, dimana gaji tersebut belum dibayarkan. Kemanakah uang itu? Hanya Tuhan yang tahu.

Lagu ini – bersama lagu dari band lainnya – terdapat pada album Frekuensi Perangkap Tikus Vol. 2 yang dirilis oleh ICW (Indonesian Corruption Watch). Tujuan dari dirilisnya album ini yaitu untuk mengingatkan bahaya laten dari korupsi – setidaknya menurut saya. Lagu-lagu lain juga sama, yakni bertajuk korupsi.

Korupsi memang dapat dicegah, apalagi jika dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat!
White Shoes & The Couples Company – Dana Express

Oooo.... Dendang kami menanti
Waktu terulur lama terbuang percuma
Seringkali ini terjadi
Gaji jauh tertunda resah dibuatnya
Hari ini aku kesal sekali. Bagaimana tidak? Akhir bulan yang dinanti menjadi sangat menyebalkan. Gaji yang seharusnya sudah dikirim ke rekeningku, ternyata harus tertunda beberapa hari. Kejadian ini bukan hanya sekali atau dua kali terjadi, namun sudah teramat sering. Totalitas kepada perusahaan tempatku mengabdi harus diganjar dengan terlambatnya upah kerja. Tidak sebanding dengan kerja lembur yang dititahkan atasan kepadaku, mentang-mentang aku lulusan baru yang bisa dieksploitasi seenaknya. Kalau pada akhirnya perusahaan ini sering menggaji terlambat karyawannya, tentu aku sudah resign sejak lama! Aku sangat kecewa!

Pak Direktur, kami lelah
Kandas harapan berlibur
Senja indah di akhir tahun
Kami pun ingin bersuka
Wahai Bapak Direktur, tolong dengarkanlah keluh kesah kami! Karyawan-karyawati yang kau patahkan harapannya! Sebenarnya kami sudah lelah sekali bergelut dengan kertas-kertas, juga klien yang menyebalkan itu. Kami bosan bertemu dengan mereka! Kami juga ingin bervakansi, melepas penat. Apa yang kami butuhkan ialah berlibur di akhir tahun nanti. Rencana sudah di tangan, namun apa daya? Uang yang kami butuhkan untuk berlibur masih bertengger entah dimana. Kami manusia, bukan robot! Kami juga ingin menikmati senja di tempat wisata. Bukan melototi layar sepanjang waktu  di ruangan bersekat sempit ini!

Besar harapan ‘ku menggunung
Semoga tempo lembur tidak sia-sia
Tiap pagi-pagi berangkat kerja
Menabung impian besar indah bersama
Asa dan harapan untuk berlibur hanya mampu kami bayangkan, namun sayangnya tidak bisa terlaksana. Pucuk dicita, ulam belumlah tiba. Segala rencana yang sudah disiapkan jauh-jauh hari harus kami buang dari kepala. Lama waktu berlembur yang kami korbankan demi intensif yang tak seberapa, tak sebanding dengan pengorbanan waktu dan kesehatan. Bayangan di kepala ketika menerima upah di pagi hari saat berangkat kerja haruslah sirna. Impian berlibur setelah diterpa deadline kandas begitu saja. Inikah bayaran kami wahai Bapak Direktur yang kami hormati?

Pak Direktur, lelah aku menunggu gajiku
Tipis sudah harapan berlibur di akhir tahun
Wahai Bapak Direktur yang dermawan, kami sudah tak tahan lagi. Tak lihatlah kau? Kami sudah tak berdaya. Tubuh kami memberontak, sudah tak kuasa ingin berlibur. Akhir tahun yang indah hanyalah angan semata. Dimanakah hak kami? Jeritan hati pasti tak bisa kau dengar, biarlah kami pendam sendiri keinginan berwisata di akhir tahun nanti.

Rambu kota, kami lelah
Kandas harapan berlibur
Senja indah di puncak gunung
Kami pun ingin bersuka
Yang bisa kami lakukan cuma berkeluh kesah kepada rambu-rambu di kota. Lampu lalu lintas, trotoar, jembatan penyeberangan mengasihani tatkala melihat wajah lesu kami. Hiruk-pikuk saat senja hari makin membuat kepala meledak rasanya. Sebabnya sudah jelas: gaji yang tak kunjung turun. Bayangan akan senja yang berbeda di tempat wisata nanti musti kami buang jauh-jauh. Bagaimana damainya senja di gunung? Dengan suara burung-burung yang pulang ke sarang, serta bunyi orkestra jangkrik di sekitar paviliun? Percuma memendam apa yang tak bisa dilaksanakan.

Langit cerah, kami lelah
Kandas harapan berlibur
Senja indah di tepi laut
Kami pun ingin bersuka

Kemanakah kami bisa mengadu? Bosan sudah mendengar ocehan dari teman sekantor. Tolong hentikan semua ini! Bahkan langit cerah pun memberi isyarat, bahwa inilah waktu yang tepat untuk berlibur untuk melepas penat di kepala. Laut rasanya memanggil-manggil ingin dikunjungi. Hangatnya senja di pesisir, dipadu dengan kegiatan menganggang ikan bersama orang tercinta. Sungguh senja yang sempurna, kurasa. Hasrat berlibur yang telah memuncak sampai ke ubun-ubun, ingin meledak rasanya. Apalah daya kami, hanya bisa membayangkan tempat-tempat itu di kepala.

***



You Might Also Like

0 komentar

Gallery