Saat Kusendiri

Minggu, November 08, 2015

            Kita mulai dari pertanyaan “Apa yang kulakukan ketika sendiri?”.

Pengertian ambivert via georgecouros.ca

            Lebih banyak merenung, dan berpikir. Mungkin lebih tepatnya, berimajinasi. Jangan salah. Imajinasiku teramat liar dan membumbung tinggi. Hingga sulit dijinakkan, hingga jatuh diantara bintang-bintang.



           Kadang, aku ingin saja hidup di dunia imajinasi. Mungkin aku mati, namun masih mampu berimajinasi.

           Inilah –entah derita atau kesenangan—ketika seorang ambivert seorang diri, tak ada yang menemani. Entah yang sengaja sendiri, atau ditinggal sendiri.

            Menjadi seorang ambivert susah-susah gampang. Sebelumnya, ambivert itu berada diantara ekstrovert dan introvert. Kita berada ditengah-tengah, memiliki karakter ekstrovert dan introvert. Entah seimbang atau bagaimana, tapi kita terlahir seperti itu. Terlihat “memakai topeng” agaknya, bagi sebagian orang.
           
        Kita bisa segila ekstrovert, namun bisa menyimpan rahasia sendiri dan melow layaknya introvert. Apabila ekstrovert selalu ingin keluar, bersama teman, kita tidak. Kita perlu me-time juga, dan saat sendiri, kita bisa menjadi introvert. Saat menjadi introvert, imajinasiku bisa menjadi liar. Seliar hewan-hewan di savana Afrika.
           


Savana di Afrika via thinglink.com

           Kadang, imajinasiku mengarah ke overthinking –pada beberapa kasus. Sudah takut apa yang terjadi, sudah memikirkan yang terburuk sebelum dijalani. Sama seperti saat aku mau sidang skripsi, aku takut. Mencari pencerahan, dan sharing kepada orang tua misalnya. Ibu berkata “Kalau kamu sudah takut duluan, kamu sudah mundur satu langkah. Tidak jadi berperang.

            Imajinasiku kadang seperti saat menonton bioskop. Sudah tau apa yang kulakukan 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, atau 50 tahun ke depan. Semua sudah terproyeksi. Ya, meskipun kadang aku suka bimbang tentang masa depan. Kita bukan Mama Laurent, bukan? Yang ada, aku kembali overthinking.


            Nampaknya, aku sudah terlalu sering overthinking tentang hal yang buruk. Semua harus diakhiri. Kita memang tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Pasti, Tuhan punya rencana yang sudah ditentukan. Dan, persiapkan diri kita untuk plot twist-Nya di masa depan! Cheers! :)

You Might Also Like

0 comments

Galeri

Subscribe