Catatan Mahasiswa Tingkat Akhir #4

Jumat, Juli 31, 2015

           Barbie-nya nakutin gitu :( via https://pbs.twimg.com/media/Bv-JMsbCUAExFhT.jpg:medium

Tahapan skripsi atau tugas akhir ialah tahapan dimana seorang mahasiswa rentan. Rentan dalam artian rentan kejiwaan, rentan fisik, atau pun rentan kocek. Dan semua baik mahasiswa terdahulu, sekarang, selanjutnya pasti akan mendapat giliran. Karena hidup itu menunggu giliran.


            Hidup dalam tahapan skripsi, bisa senang bisa sedih. Atau tidak keduanya! Skripsi itu ibarat jatuh cinta: rasanya nano-nano. Bercampur seperti gado-gado. Ada senang, sedih, cemas, lega, dan yang lainnya. Kita saat jatuh cinta kadang merasakan hal yang sulit diungkapkan, terlalu banyak perasaan yang tercampur aduk di dalamnya, begitu pula skripsi. Perjuangan kita dari awal, hingga ke titik sekarang merupakan kumpulan rasa yang susah diungkapkan.
            Saat berbicara jatuh cinta, bisa saja kita banyak suka, lantas banyak duka. Pun saat skripsi ria: banyak suka, banyak duka. Suka yang menghampiri kita: sebentar lagi toga di tangan, ijazah di pelupuk mata. Duka yang tak kalah menghampiri kita: pergulatan batin antara kita dan dosen, revisi berkali-kali. Semua itu adalah secuil asam garam dalam tahapan skripsi.
            Oh ya, namanya juga tahapan dalam hidup, pasti ada ujiannya kan? Ga seru kalo ga dikasi ujian sama Yang Di Atas. Ibarat kita nonton film kalo ga ada konfliknya ga seru, melempem, terus ratingnya rendah deh! Haha. Skripsi juga gitu cuy! Tapi itu yang bikin asik.
            Skripsi itu paling lancar kalo semuanya kooperatif. Maksudnya gini, lo rajin ngerjainnya, tiap ada revisi langsung sikat saat itu juga buat ngerjain kekurangannya. Dosen lo juga mendorong lo buat cepet-cepet nyelesein skripsi. Lah, kalo udah gitu enak banget! Toga di pelupuk mata pun keliatan bersinar dan melambai minta dijemput!
            Unfortunately, ga semua orang kek gitu. Ada yang mahasiswanya males, dosennya rajin. Ada yang dosennya males ditemui, mahasiswanya rajin. Bahkan ada yang --baik dosen maupun mahasiswanya-- sama-sama males. Yaudah bhay!
            Jadi, gimana kita menyikapinya? Gue termasuk jamaah al-dosen-malas-ditemuiyah. Alias, gue udah kejar-kejar itu dosen, eh beliau yang sering ninggal. Maunya apa? Mungkin seneng ya dapet predikat dosen-dengan-mahasiswa-bimbingan-ga-sidang-sidang? Entahlah, think positive. Apapun yang terjadi ini udah asam garam tahapan skripsi yang udah gue bilang sebelumnya. Belum mujur aja keleus!
            Lagian kalo dipikir-pikir, banyak alasan kenapa beliau jarang banget bisa ditemui. Misalnya emang ada proyek atau tugas macem UPSUS gitu. Duh kenapa harus dosen yang membimbing gitu ya? Apa ga seneng dosen kalo mahasiswa bimbingannya lulus cepet? Okelah mereka tugas negara gitu, tapi mbok ya profesional gitu. Kalo misal ga sanggup memikul beban tugas negara itu, kenapa ga yang lain? Hai dosen, apa kamu terlalu takut pada atasan? Kemudian apa bedanya kamu dengan budak? Entahlah, hanya hatinya yang tau. Semoga nuraninya tersadarkan.
            Yang jelas, setiap perbuatan selalu ada alasan dibaliknya. Beliau berlaku seperti itu pasti ada alasan. Entah apa alasannya. Namun, dengan demikian tentunya ada penilaian orang tentang perbuatan orang tersebut, kecuali orang tersebut sudah kebal dengan penilaian orang lain. Dengan kata lain, sudah cuek dan menerima dengan penilaian orang lain J


Keep your positive mind(?)

You Might Also Like

0 comments

Galeri

Subscribe